
Sanggar Tari Ayodya Pala Suarakan Kepedulian Lingkungan Lewat Seni di PKB 2025
KAPSUL4D Denpasar, Bali — 11 Juli 2025
Seni bukan hanya soal estetika, tetapi juga media edukasi dan suara untuk perubahan. Itulah yang ditunjukkan oleh Sanggar Tari Ayodya Pala dari Depok, Jawa Barat, dalam penampilan mereka di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025, Jumat (11/7). Mereka membawakan karya bertajuk “Rimbun Rimba Harmoni Alam Nusantara”, yang menggambarkan keindahan alam Indonesia sekaligus seruan kuat untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Perpaduan Tradisi dan Kepedulian Alam
Dalam pertunjukannya di panggung terbuka Kalangan Ayodya, Art Centre Denpasar, Sanggar Ayodya Pala menampilkan perpaduan gerak tari dari berbagai daerah—Jawa, Sunda, Kalimantan, dan Papua—yang menyatu dalam koreografi yang menggambarkan kehidupan hutan tropis dan budaya masyarakat yang hidup selaras dengan alam.
Tarian ini disusun dengan alur naratif yang menggambarkan:
- Harmoni manusia dan alam
- Ancaman kerusakan akibat ulah manusia (penebangan liar, polusi)
- Harapan untuk pemulihan melalui kesadaran ekologis
Musik Tradisional dan Visual yang Menyentuh
Penampilan semakin kuat dengan iringan musik etnik dari berbagai wilayah Indonesia, dikombinasikan dengan tata busana berwarna hijau rimba dan aksen dedaunan. Latar proyeksi visual hutan dan hewan liar turut menambah kedalaman emosional dari pertunjukan tersebut.
“Lewat seni, kami ingin menyampaikan pesan cinta bumi kepada generasi muda,” ujar Putri Rahma, koreografer sekaligus direktur artistik sanggar.
Seni sebagai Media Pendidikan
Sanggar Ayodya Pala dikenal sebagai kelompok seni pendidikan yang aktif di sekolah dan komunitas. Mereka menjadikan seni pertunjukan sebagai alat untuk menyampaikan pesan moral, sosial, dan kini—ekologis.
Penampilan ini mendapat sambutan hangat dari penonton dan diapresiasi sebagai bentuk seni yang relevan dengan isu global saat ini, seperti perubahan iklim, deforestasi, dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Dari Lokal ke Global
Pesta Kesenian Bali (PKB), yang telah berlangsung sejak 21 Juni 2025, memang menjadi ajang tahunan yang mengangkat budaya lokal. Namun, penampilan seperti Ayodya Pala memperlihatkan bahwa seni tradisi bisa berbicara dalam konteks universal.
“Kami berharap, setelah menonton tarian ini, penonton tidak hanya terhibur tapi juga tergerak untuk peduli lingkungan,” tutup Rahma.
Penampilan Sanggar Tari Ayodya Pala menjadi bukti bahwa seni tradisi dapat menjadi agen perubahan. Di tengah gemuruh modernisasi, kesenian lokal masih bisa berkontribusi besar dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan—dari kearifan lokal, untuk bumi yang lebih lestari.
Link Anti Internet Positif : www.ruangmasuk.com
Whatsapp Resmi Kapsul4D : kapsul4d.link/Whatsapp