
ARTJOG 2025: Kebaya “Nggak Jadul” Lagi, Kini Jadi Simbol Gaya & Cuan
Yogyakarta, 8 Agustus 2025 – Kebaya, yang selama ini kerap dianggap kuno dan ketinggalan zaman, kini tampil sebagai ikon mode dan simbol pemberdayaan dalam gelaran seni bergengsi ARTJOG 2025. Dengan mengusung tema “Kita Berkebaya”, festival seni kontemporer ini tak hanya memamerkan keindahan estetika tradisional, tetapi juga menyuarakan pentingnya pelestarian budaya dengan pendekatan kreatif dan ekonomis.
Kebaya Naik Kelas di Panggung Seni
Dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional, ARTJOG kali ini menjadikan kebaya sebagai elemen sentral. Tak hanya tampil dalam bentuk karya visual dan pertunjukan, kebaya juga dikemas sebagai media ekspresi artistik dan identitas perempuan modern.
Salah satu highlight festival adalah kolaborasi antara perancang busana muda dan seniman visual yang menciptakan instalasi kebaya berkonsep futuristik. Dengan memadukan kain tradisional, teknologi cahaya, dan narasi sejarah, kebaya dihadirkan sebagai simbol dinamis yang bisa mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Gaya Tradisi, Nilai Ekonomi
Direktur ARTJOG, Heri Pemad, menyatakan bahwa program Kita Berkebaya bukan sekadar nostalgia budaya, tapi juga peluang ekonomi.
“Kebaya bukan hanya pakaian tradisional. Di tangan generasi muda, ia bisa jadi alat ekonomi kreatif. Kami melihat banyak pelaku UMKM kebaya dan kain lokal yang mulai naik daun berkat festival ini,” ungkapnya.
Di area marketplace ARTJOG, puluhan stan menjual kebaya modern dengan desain edgy—mulai dari kebaya kasual untuk harian hingga kebaya bold untuk keperluan fashion show internasional. Banyak pengunjung, terutama generasi muda, tertarik membeli kebaya sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan budaya.
Anak Muda & Kebaya? Yes, Please!
Fenomena menarik muncul dari keterlibatan para influencer fashion dan komunitas Gen Z yang aktif mempromosikan kebaya sebagai pakaian sehari-hari. Melalui konten digital, mereka mengangkat citra kebaya sebagai outfit yang bisa tampil chic di kampus, ngopi di kafe, bahkan untuk konser musik.
“Dulu malu pakai kebaya karena dibilang kayak ibu-ibu. Sekarang justru bangga karena bisa mix and match dengan gaya modern,” kata Dita Ayuningtyas, salah satu fashion creator yang turut serta di ARTJOG.
Simbol Perjuangan & Pemersatu
ARTJOG 2025 juga mengangkat narasi kebaya sebagai simbol perjuangan perempuan. Beberapa seniman menyajikan karya seni yang menyoroti peran perempuan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, di mana kebaya menjadi identitas yang melekat pada tokoh-tokoh pejuang perempuan seperti RA Kartini dan Cut Nyak Dhien.
Dengan menampilkan kebaya dalam konteks seni, ekonomi, dan emansipasi, ARTJOG 2025 mengubah persepsi publik: kebaya bukan lagi pakaian usang, tapi simbol kekinian yang kuat, lentur, dan berdaya guna.
ARTJOG 2025 membuktikan bahwa budaya bisa hidup berdampingan dengan zaman. Kebaya kini bukan sekadar warisan, tetapi juga alat untuk mengekspresikan identitas, menciptakan nilai ekonomi, dan membangun kebanggaan baru bagi generasi muda Indonesia.