
Kerugian Ekonomi Besar Akibat Bencana Alam di Tiongkok 2025
KAPSUL4D Beijing, 18 Oktober 2025 — Pemerintah Tiongkok melaporkan kerugian ekonomi yang mencapai lebih dari 30,5 miliar dolar AS sepanjang tahun 2025 akibat berbagai bencana alam yang melanda negeri tersebut. Data resmi ini dirilis oleh Kementerian Manajemen Darurat (MEM) Tiongkok dan menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Bencana Alam Terjadi Hampir di Seluruh Provinsi
Menurut laporan MEM, lebih dari 600 peristiwa bencana besar telah terjadi di berbagai wilayah Tiongkok sejak awal tahun. Bencana tersebut meliputi banjir besar, badai topan, gelombang panas ekstrem, kekeringan panjang, hingga gempa bumi.
Wilayah yang paling terdampak antara lain provinsi Guangdong, Hunan, Sichuan, dan Gansu, di mana infrastruktur publik, pertanian, serta kawasan industri mengalami kerusakan berat.
“Tahun ini menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam dua dekade terakhir. Pola cuaca tidak menentu dan peningkatan suhu global turut memperparah dampak bencana di daratan Tiongkok,” ujar pejabat MEM dalam konferensi pers di Beijing.
Dampak Terbesar dari Banjir dan Topan Musim Panas
Sekitar 70% dari total kerugian ekonomi berasal dari banjir besar dan topan yang melanda wilayah selatan dan pesisir timur Tiongkok pada pertengahan tahun.
Topan Matmo dan Halong, dua badai tropis kuat di Pasifik barat, memicu hujan deras selama berminggu-minggu dan menenggelamkan ribuan hektar lahan pertanian. Selain itu, lebih dari 150.000 rumah rusak atau hancur, sementara jaringan transportasi dan listrik lumpuh di banyak kota besar.
Pemerintah daerah bekerja sama dengan militer dan relawan sipil untuk melakukan evakuasi massal dan mendistribusikan bantuan logistik, namun kerugian ekonomi tetap tak terelakkan.
Sektor Pertanian dan Energi Paling Terpukul
Dampak terbesar terasa di sektor pertanian, dengan kerusakan tanaman padi, jagung, dan kapas di area seluas lebih dari 1,8 juta hektar.
Sementara di sektor energi, beberapa fasilitas pembangkit listrik tenaga air dan batu bara sempat berhenti beroperasi karena longsor dan kerusakan jaringan distribusi. Hal ini menyebabkan gangguan pasokan listrik di beberapa wilayah industri utama seperti Chongqing dan Zhejiang.
Upaya Mitigasi dan Adaptasi Iklim Diperkuat
Sebagai respons terhadap situasi ini, pemerintah Tiongkok berjanji akan memperkuat sistem peringatan dini bencana (early warning system) serta memperluas investasi dalam infrastruktur tahan bencana.
Tiongkok juga sedang mempercepat proyek rekayasa cuaca dan pengendalian banjir nasional, termasuk pembangunan bendungan, kanal pengalihan air, dan sistem sensor berbasis satelit.
“Kami belajar banyak dari bencana tahun ini. Fokus utama kami ke depan adalah pencegahan dini dan pembangunan yang berkelanjutan,” ujar juru bicara MEM.
Perubahan Iklim Jadi Faktor Utama
Para ahli iklim menyebut bahwa perubahan pola cuaca akibat pemanasan global menjadi faktor pendorong meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana alam di Tiongkok.
Laporan World Meteorological Organization (WMO) juga menegaskan bahwa Asia Timur kini menjadi kawasan dengan peningkatan risiko bencana tercepat di dunia.
KAPSUL 4D – Tempat Taruhan Betting Bola Terpercaya Dengan Bonus Cashback Terbesar Hingga 15%
Link Anti Internet Positif : www.ruangmasuk.com
Whatsapp Resmi Kapsul4D : kapsul4d.link/Whatsapp