
Lonjakan Kasus Pertussis (Batuk Rejan) di AS — Ancaman Serius untuk Bayi
KAPSUL4D Di Amerika Serikat, penyakit batuk rejan atau pertussis kini kembali menjadi masalah kesehatan publik yang serius. Berdasarkan data terbaru dan laporan dari otoritas kesehatan, terjadi lonjakan besar kasus yang berdampak terutama pada bayi di bawah usia 1 tahun.
Apa Itu Batuk Rejan?
Batuk rejan adalah infeksi saluran pernapasan yang sangat menular, disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bayi di bawah usia 1 tahun memiliki insiden tertinggi dan berisiko paling besar mengalami komplikasi serius hingga kematian.
Gejala awalnya mirip flu atau batuk biasa—pilek, demam ringan, batuk tersendat‑sendat. Namun kemudian bisa berkembang menjadi batuk parah berulang, serta pada bayi bisa terjadi apnea (henti napas), pneumonia, bahkan kematian.
Situasi Terkini dan Data Kasus
– Di negara bagian Texas, dilaporkan kasus yang mencapai lebih dari 3.500 hingga Oktober 2025, angka tertinggi dalam 11 tahun belakangan. Sekitar 85 % dari kasus ini terjadi pada anak‑anak. Setidaknya dua bayi telah meninggal terkait wabah ini.
– Di Louisiana dilaporkan dua bayi meninggal akibat pertussis tahun ini, dan ditemukan bahwa respon otoritas kesehatan terlambat memberikan peringatan publik.
– Laporan menunjukkan bahwa selama dan pasca pandemi, aktivitas pertussis sempat menurun—namun kini telah kembali naik ke level yang mengkhawatirkan. Contoh: di negara bagian Hawai‘i kasusnya lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya hingga Juli 2025.
Mengapa Bayi Jadi Rentan?
– Bayi belum bisa menerima vaksin lengkap pertussis hingga usia sekitar 2 bulan atau lebih, sehingga mereka sangat rentan jika terpapar.
– Kekebalan yang melemah atau menurun pada orang dewasa dan remaja dapat menyebabkan mereka menjadi pembawa tanpa gejala parah, lalu menularkan ke bayi yang belum terlindungi.
– Menurut salah satu laporan, sekitar 1/3 bayi di bawah 12 bulan yang terinfeksi pertussis perlu dirawat di rumah sakit.
Faktor Pemicu Lonjakan Kasus
Beberapa faktor utama yang diduga memicu lonjakan pertussis antara lain:
- Penurunan cakupan vaksinasi atau terlambatnya vaksinasi.
- Pandemi COVID‑19 yang mengganggu program imunisasi dan membuat penularan berbagai penyakit menular terhambat kemudian rebound.
- Kurangnya kewaspadaan publik terhadap penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin.
Dampak & Komplikasi
Pada bayi, komplikasi pertussis bisa sangat serius:
- Apnea (berhenti napas) atau henti napas sebentar.
- Pneumonia (radang paru) atau infeksi paru berat.
- Kejang atau kerusakan otak (jarang tapi mungkin).
- Kematian; walau kasusnya jarang, namun tetap terjadi.
Dampak ini juga menimbulkan beban rumah sakit, biaya kesehatan tinggi, dan trauma bagi keluarga yang terdampak.
Pencegahan & Apa yang Bisa Dilakukan
– Vaksinasi adalah kunci utama: Untuk bayi, vaksin DTaP diberikan mulai usia 2 bulan. Untuk orang dewasa dan ibu hamil, vaksin Tdap disarankan untuk mengurangi risiko penularan ke bayi. nfid.org+1
– Ibu hamil idealnya mendapatkan vaksin pertussis agar kekebalan dapat diteruskan ke bayi sejak lahir.
– Orang dewasa dan anak‑anak yang berdekatan dengan bayi (orang tua, pengasuh) juga harus divaksin agar menciptakan “lingkaran perlindungan”.
– Jika muncul gejala batuk intens atau “whoop” (batuk dengan hembusan napas khas) terutama pada bayi, segera ke fasilitas kesehatan.
– Kesadaran publik dan komunikasi yang cepat oleh otoritas penting untuk menekan penyebaran.
KAPSUL 4D – Tempat Taruhan Betting Bola Terpercaya Dengan Bonus Cashback Terbesar Hingga 15%
Link Anti Internet Positif : www.ruangmasuk.com
Whatsapp Resmi Kapsul4D : kapsul4d.link/WhatsApp