
Everest Jadi Wilayah Rawan Bahaya Glasial: Studi Peringatkan Risiko Banjir Ledakan Danau Es
KAPSUL4D Kathmandu, 16 Oktober 2025 — Gunung Everest, puncak tertinggi di dunia yang selama ini dikenal sebagai simbol tantangan alam, kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa wilayah sekitar Everest semakin rentan terhadap bencana glasial, terutama banjir akibat ledakan danau glasial (glacial lake outburst flood atau GLOF).
Pemanasan Global Mempercepat Pencairan Es
Tim peneliti dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menyatakan bahwa suhu di kawasan Himalaya meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Hal ini mempercepat pencairan gletser dan menyebabkan pembentukan danau-danau besar di kaki gunung yang ditahan hanya oleh dinding es atau endapan tanah rapuh.
“Selama dua dekade terakhir, luas danau glasial di sekitar Everest meningkat lebih dari 60 persen. Jika tren ini berlanjut, risiko bencana meningkat drastis,” kata Dr. Sushma Thapa, ahli klimatologi dari ICIMOD.
Risiko Ledakan dan Dampak bagi Penduduk Lokal
Fenomena banjir akibat ledakan danau glasial terjadi ketika dinding alami penahan danau tidak lagi mampu menahan tekanan air yang terus meningkat. Ketika jebol, air bisa meluncur ke lembah dengan kecepatan luar biasa — menyapu desa, jembatan, dan infrastruktur penting di sepanjang aliran sungai.
Salah satu danau yang menjadi perhatian utama adalah Imja Tsho, yang terletak sekitar 6.000 meter di atas permukaan laut. Peneliti memperingatkan bahwa volume air di danau ini meningkat lebih dari 50 juta meter kubik sejak awal 2000-an, menjadikannya salah satu titik paling berisiko di kawasan Everest.
“Ribuan warga di wilayah Khumbu dan Solukhumbu hidup di bawah ancaman yang nyata,” ujar Thapa. “Jika satu danau besar pecah, dampaknya bisa mencapai lembah hingga ke Sungai Dudh Kosi.”
Upaya Mitigasi dan Sistem Peringatan Dini
Pemerintah Nepal bekerja sama dengan lembaga internasional telah mulai membangun sistem pemantauan dan peringatan dini multi-bahaya (multi-hazard early warning system). Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi perubahan tekanan air dan retakan es di sekitar danau.
Selain itu, tim teknis juga telah melakukan pengurasan air danau secara bertahap menggunakan pipa bawah tanah untuk mengurangi tekanan. Namun, keterbatasan dana dan akses medan ekstrem membuat proyek ini berjalan lambat.
Pesan dari Komunitas Global
Para ilmuwan menegaskan bahwa bahaya glasial di Everest bukan hanya isu lokal, tetapi juga simbol dampak nyata perubahan iklim global. Wilayah Himalaya dikenal sebagai “menara air Asia”, sumber dari sungai besar seperti Gangga, Brahmaputra, dan Mekong yang menopang kehidupan ratusan juta orang.
“Jika gletser Himalaya terus mencair, jutaan orang akan kehilangan sumber air di masa depan. Everest hanyalah alarm pertama dari krisis yang lebih besar,” tegas laporan tersebut.
KAPSUL 4D – Tempat Taruhan Betting Bola Terpercaya Dengan Bonus Cashback Terbesar Hingga 15%
Link Anti Internet Positif : www.ruangmasuk.com
Whatsapp Resmi Kapsul4D : kapsul4d.link/Whatsapp